Heru Sundaru
Kontrol Faktor Pencetus,
Kunci Mengendalikan Asma
Edisi 801 | 01 Aug 2011
Salam Perspektif Baru,
Hari ini topiknya sangat penting sebab banyak sekali kawan-kawan, kenalan, dan dari segi statistik orang yang menderita asma. Penyakit yang sudah banyak dikenal tapi barangkali tindakannya masih membutuhkan penjelasan. Jadi kita beruntung mendapat tamu orang yang sangat punya otoritas dalam penyakit asma yaitu Dr. Heru Sundaru, spesialis penyakit dalam, konsultan alergi dan imunologi.
Heru Sundaru menegaskan asma tidak bisa disembuhkan karena faktor genetik berperan di situ. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrolnya supaya tidak terjadi komplikasi, dan kualitas hidup penderitanya bisa menjadi lebih baik. Artinya, penderitanya bisa enjoy, bisa santai dengan keluarga, bisa mencari uang untuk biaya pengobatannya.
Menurut Heru Sundaru, karena dasarnya genetik maka frekunesi asma kebanyakan stabil. Orang yang awalnya asmanya ringan, akan ringan terus. Begitupula sebaliknya. Bila terkena faktor pencetus asma maka akan bisa bervariasi dari hari ke hari. Namun itu bisa dikontrol dengan baik jika kita memberikan pengobatan dan menjauhkan faktor pencetus. Kata kuncinya adalah kontrol. Jika bisa mengontrol dengan baik, maka kita terhindar dari serangan asma. Dengan kita terkontrol maka pengidap asma bisa menikmati hidupnya dengan baik.
Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Heru Sundaru.
Mengapa terjadi asma?
Rasanya pertanyaan itu simple sekali, tapi jawabannya susah sekali. Asma adalah sesuatu yang memiliki banyak faktor terlibat. Pertama, faktor genetik sehingga tidak heran bila seseorang yang memiliki penyakit asma, misalnya ayah atau ibu, maka anaknya pun ada asma. Suatu survei menunjukkan 30% - 35% seseorang mempunyai asma dari faktor keturunan. Ini didapat dari hasil tanya jawab (wawancara) antara pasien dengan dokter. Tidak melalui pemeriksaan genetik.
Kemudian ada faktor lain yang ikut terlibat di situ yaitu faktor risiko yang menyebabkan dia bisa asma. Pertama adalah Alergen. Alergen yang paling banyak di dunia adalah tungau debu rumah. Kita pernah mendengar tungau debu rumah ada di Indonesia, Amerika, Australia kecuali di Kutub Utara atau Kutub Selatan dimana tungau tidak tumbuh. Faktor lain yang juga ikut berperan adalah lingkungan yang kurang sehat, polusi, dan lain-lain. Asma lebih banyak terdapat di daerah perkotaan daripada pedesaan. Ada dugaan bahwa faktor infeksi juga bisa menyebabkan asma.
Karena genetik berarti ada sebagian dari sebab asma yang tidak terhindarkan, Apakah kemudian asma bisa dihilangkan atau tidak?
Sampai sejauh ini kode genetik itu sangat berperan. Kalau kita bicara genetik maka kita bicara juga tentang kromosom. Kromosom itu menjadi genetik, masing-masing genetik itu berperan pada asma. Sampai saat ini ilmu pengetahuan belum sampai kepada bisa mengubah genetik seseorang.
Sekali seseorang ketahuan asma maka dia seumur hidup akan memiliki asma, Tidak bisa disembuhkan. Apakah asma bisa dikendalikan?
Bisa dikendalikan, namun demikian sangat bervariasi. Satu orang bisa terkena asma hanya satu tahun sekali. Di lain pihak ada orang lain setiap hari menderita asma sampai terganggu kerjanya, tidurnya, dan sebagainya. Penderitanya sangat bervariasi. Asma tidak bisa disembuhkan karena genetik berperan di situ. Yang bisa kita lakukan adalah hanya bisa mengontrol supaya tidak terjadi komplikasi, dan kualitas hidup penderitanya bisa menjadi lebih baik. Artinya, penderitanya bisa enjoy, bisa santai dengan keluarga, bisa mencari uang untuk biaya pengobatannya.
Apakah frekuensinya bisa berubah misalnya dari semula setahun sekali menjadi seminggu?
Bisa sekali, yang semula jarang terjadi bisa menjadi sering karena sesuatu misalnya dia stres. Jadi itu bisa berubah. Begitu pula sebaliknya. Orang yang sering kali sesak bisa berubah menjadi jarang dengan lingkungan yang lebih baik.
Ada suatu penelitian yang dilakukan di Belanda menunjukkan orang yang sesak dan sulit dikendalikan asmanya berubah menjadi berkurang asmanya saat pergi ke pegunungan Alpen. Apa iya semua orang harus tinggal di daerah tersebut? Jadi kita harus kontrol dengan pengobatan agar orang itu bisa hidup lebih baik.
Tadi disebut Kutub Utara dan Kutub Selatan, lalu Pegunungan Alpen. Apakah itu berarti asma lebih terkendali dalam cuaca lebih dingin?
Tergantung penyebabnya. Kalau ciri khas orang asma adalah saluran pernafasannya sangat sensitif (hypersensitive) terhadap berbagai macam zat. Misalnya, perubahan cuaca, kelembaban udara, alergen. Kalau alergennya tungau debu rumah, maka alergennya bisa dikatakan nol di Alpen, Kutub Utara dan Kutub Selatan karena di sana itu tidak tumbuh. Kalau penyebabnya adalah alergen maka asma orang tersebut bisa dikendalikan.
Apakah banyak atau tidak jumlah orang asma yang tidak tahu bahwa dia asma, atau menurut penelitian itu penyakit yang sudah diketahui sehingga diketahui juga pengobatannya?
Banyak sekali karena gejala asma hampir menyerupai penyakit lain. Kalau pada orang tua, orang asma bisa diidentikkan orang-orang yang disebut penyakit aspegic kronik. Pada orang yang telah lama merokok, itu menyebabkan saluran pernafasannya menyempit karena terdapat lendir dan sebagainya. Perbedaannya, kalau orang asma saat diobati menjadi baik, sedangkan merokok tetap saja sesak atau sesaknya hanya berubah sedikit walau sudah diobati. Bisa juga seperti penyakit jantung dimana banyak sekali orang menderita sakit jantung saat usia tua. Dia sesak, batuk, dan lain-lain. Seperti juga orang asma di usia tua juga begitu.
Jadi dokter harus betul-betul teliti, misalnya kalau seseorang sesak sejak kecil terus sampai tua, itu biasanya asma. Ada juga anak-anak yang batuk dan sesak, tapi dia hanya bronchitis biasa. Itu beda dengan asma sehingga pengobatannya berbeda. Penyakit karena virus, misalnya flu, menyerupai asma. Setelah flunya baik maka asmanya tidak muncul lagi. Sedangkan kalau asma berturutan terus. Apalagi kalau orang asma itu hampir 70% disertai gejala pilek, sehingga seperti orang flu. Pileknya itu karena alergi, bukan pilek karena infeksi virus di hidung.
Banyak penyakit yang menyerupai. Jadi tidak heran kalau orang awam sering mengatakan, "Saya sedang flu, pilek biasa." Akibatnya, dia tidak tertangani dengan baik. Jangankan orang awam, dokter pun bisa terkecoh. Mungkin ia kurang mahir atau spesialisasinya lain atau barangkali dia menganggap itu hanya flu biasa. Padahal setiap bulan si pasien berobat karena pilek. Karena itu Untuk mengobati sesorang dengan penyakit yang kronis, diagnosis awalnya harus benar. Kita tidak mengobati yang salah, kita mengobati penyakit yang benar. Kalau diagnosisnya benar, biasanya obatnya juga benar.
Apa tanda-tanda untuk memastikan bahwa kita memiliki asma?
Pertama, untuk membuat diagnosis yang baik maka kita melakukan wawancara. Ini karena penyakit asma hilang timbul, suatu hari baik kemudian datang lagi. Ada kalanya penyakit itu berlangsung terus. Kedua, ada kalanya memburuk di malam hari. Ia sering terbangun malam hari dan mengalami batuk-batuk walau tidak selalu sesak, apalagi bila batuk-batuknya disertai sesak. Biasanya itu menjelang pagi hari Ketiga adalah usia. Orang-orang yang mengalami asma biasanya mulai dari anak-anak. Namun tidak menutup kemungkinan asma itu datang setelah usia 40 tahun. Umumnya, asma dimulai dari anak-anak, hilang sebentar sewaktu remaja, muncul lagi sewaktu dewasa.
Kalau ada penyakit yang muncul di usia 40 tahun berarti itu laten walaupun genetik, betulkah?
Betul sekali, bisa muncul pada usia 40 tahun. Kembali lagi kita harus ada wawancara yang baik. Lalu kita harus tanyakan faktor pencetusnya. Misalnya, dia lagi enjoy, kemudian stres, lalu sesak. Atau saat ada orang menyapu dan terkena debu membuat dia sesak. Itu faktor pencetus. Lalu, umumnya kita mengadakan pemeriksaan badan. Kita akan dengar ada bunyi "ngik-ngik" (berdecit).
Kita lihat cara pasien mengambil nafas (inspirasi) dan mengeluarkan nafas (ekspirasi). Kalau pada penderita asma maka ekspirasi akan memanjang, biasanya 3:1 berubah menjadi 1:1. Jadi memerlukan waktu lebih lama untuk mengeluarkan nafas.
Jika mau lebih canggih lagi kita melakukan pemeriksaan spirometary yaitu meniupkan udara dari paru-paru kita ke dalam suatu alat untuk mendeteksi apakah kita ada penyempitan saluran nafas. Lalu kita semprotkan obat, bila dalam waktu 5 – 15 menit penyempitan itu hilang maka orang tersebut asma. Itu tidak terjadi pada penderita jantung, dan pada penyakit paru yang lain.
Apakah semprotan obat itu penting?
Ya. Ada dua jenis obat semprotan. Semprotan yang pertama adalah obat yang hanya bisa melegakan saluran nafas immediately disebut bronchodilator. Semprotkan, tunggu 5-10 menit, pasien merasa lega. Namun demikian, tidak semua orang disemprot langsung lega. Pada orang-orang yang sudah kronis dimana ada peradangan di situ, kita harus memberikan obat anti radang. Di luar dikenal dengan nama prednisone, prednisolone yang merupakan jenis generik. Kita memberikannya selama dua minggu. Penyempitan yang tadinya tidak bisa diubah dengan bronchodilator kemudian kita ukur sudah melebar lagi. Itu adalah asma.
Dalam pengalaman dokter, walaupun kita sudah tahu itu tidak bisa dihilangkan apakah pasien dokter lebih banyak yang memburuk atau membaik seiring perjalan waktu?
Kebanyakan itu stabil. Orang yang awalnya asmanya ringan, akan ringan terus. Begitupula sebaliknya. Namun, bila terkena faktor pencetus tadi maka akan bisa bervariasi dari hari ke hari. Dasarnya secara genetik, yang ringan biasanya tetap ringan terus, yang berat tetap menjadi berat. Namun itu bisa dikontrol dengan baik jika kita memberikan pengobatan dan menjauhkan faktor pencetus. Kata kuncinya adalah kontrol. Jika bisa mengontrol dengan baik, maka pasien bisa menikmati hidupnya dengan baik.
Kalau dikatakan faktor pencetus bisa stres atau emosi, tentu lingkungan kerja berperan penting untuk orang yang bekerja selama delapan jam sehari. Apakah kalau orang yang dulu sering asma tapi sekarang lebih ringan berarti lingkungan kerjanya bagus, betulkah?
Tidak langsung. Kalau gajinya tinggi barangkali iya.
Apakah penyakit ini membahayakan nyawa?
Penyakit ini bisa membahayakan. Laporan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), pada tahun 2005 terdapat 255.000 orang meninggal karena asma. Kemudian dari 255.000 orang tadi sebanyak 80% terjadi di negara berkembang.
Kalau dokter pikir, apakah orang yang meninggal tadi karena penyakitnya tidak tertolong derajatnya atau karena kurang waspada?
Dua-duanya bisa.
Bagaimana supaya orang masih bisa hidup normal dan bahagia dengan warisan genetik penyakit asma?
Pertama, saya ingin menyampaikan informasi dari WHO mengenai tema Hari Asma Sedunia yaitu "You can control your asma". Artinya, kalau kita berusaha maka kita bisa mengendalikan asma kita, baik mulai dengan diri kita sendiri maupun pertolongan dokter. Hal yang sangat penting di sini adalah mengetahui seberapa berat derajat asma kita, apakah asma saya ini terkendali dengan baik dalam kehidupan saya sehari-hari.
Itu bisa dilihat dari gejala yang muncul, apakah setiap hari, apakah kita suka terbangun malam hari, apakah aktifitas saya terganggu sehari-harinya, apakah sering menggunakan obat anti asma yang melegakan pernafasan. Dari situ kita bisa menilai asma itu belum terkendali. Itu ada skornya. Kalau belum terkendali, apakah ada faktor yang memperburuk asma kita. Misalnya, kita ada pilek dan sinusitis. Itu akan memperburuk asma. Hal lainnya adalah sakit maag atau juga cairan lambung yang menaik ke atas akan menimbulkan asma. Begitu pula overweight. Itu akan memperburuk asma kita. Hal-hal yang demikian harus kita kendalikan dengan baik.
Kemudian, kita berfikir apakah kita sudah menggunakan obat dengan benar? Ada dua jenis obat, yaitu yang pertama adalah obat pelega. Itu dipakai kalau kita dalam keadaan sesak. Kalau kita tidak sesak, kita tidak pakai. Kedua adalah obat pengontrol. Sama-sama disemprotkan. Itu yang memang harus digunakan setiap hari. Ada dua jenis obat asma yang kita sering salah gunakan. Pada umumnya pasien senang menggunakan obat pelega karena dalam waktu lima menit sudah lega. Namun beberapa jam kemudian minta lagi-minta lagi. Orang bilang kecanduan. Memang tidak pada tempatnya.
Dalam keadaan demikian, kalau kita lebih dari dua kali semprot dalam waktu satu minggu maka kita harus memakai obat pengontrol. Pengontrol itu umumnya adalah golongan steroid. Saat kita sesak atau tidak, obat pengontrol itu harus dipakai setiap hari. Untuk mengetahui dapat mengontrol itu atau tidak, kita bisa melihat dari nilai berapa skor keandalan asma kita. Jadi diketahui apakah kita perlu menambah obat atau tidak. Kita sesuaikan dengan tingkat kekontrolan asma kita, berapa nilainya, apakah terkontrol dengan baik atau tidak.
Kalau orang darah tinggi diukur dengan spignomanomater, kalau orang sakit gula diukur dengan kadar gula darah, orang asma dengan asma control test. Test untuk melihat berapa skor saya. Itulah kuncinya. Kalau kita terkontrol dengan baik, maka kita akan terhindar dari bahaya.
Apakah kita bisa memiliki alat tes asma itu atau harus mendatangi RS?
Kita bisa melihatnya dengan menjawab daftar pertanyaan. Dengan kita terkontrol maka kita terhindar dari serangan asma. Dengan kita terkontrol maka kita terhindar dari akut berat yang menyebabkan kematian. Masing-masing penyakit itu ada alat kendalinya. Semua pengobatan punya target. Kalau orang asma skornya harus 20. Semuanya terkendali, semua harus punya ukuran untuk menyatakan kita terkontrol atau tidak.
Apakah ada pengaruh langsung dari diet and excercise untuk asma?
Kalau dia tidak ada alergi pada makanan, rasanya tidak ada pengaruhnya. Semua orang harus excercise. Orang asma juga harus excercise, namun kita lihat dia dalam keadaan sesak atau tidak. Kalau dalam keadaan sesak atau kambuh, dia tidak boleh excercise. Ada tekniknya, dia harus warming up dulu bahkan kalau perlu dia harus menggunakan obat pencegah sebelum excercise. Jangan heran, orang-orang pemenang medali emas olimpiade sebagian adalah orang asma. Excercise bukan kendala untuk orang asma.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar