Kamis, 24 Maret 2011

ICUK SUGIARTO



ICUK SUGIARTO
Sunday, 13 July 2008 03:00 WIB


Siapa tak kenal dia. Tahun 1980-an, bersama-sama pebulutangkis Indonesia lainnya, Liem Swie King, Hastomo Arbi, Kartono dan lain-lain, Icuk Sugiarto menjadi legenda bulutangkis Indonesia. Pria kelahiran 4 Oktober 1962 ini di tahun 1983 menjadi juara dunia. Kini, selain menjabat sebagai ketua Pengurus Daerah Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) DKI Jakarta, ia juga dipercaya sebagai salah satu staf Menpora Adhyaksa Dault.

Namun, bukan popularitas yang membuatnya merasa hidup saat ini. Ia menjadi tercerahkan setelah sejak beberapa tahun yang lalu, dari satu tempat ke tempat lain, ia menyambangi para atlet sepuh, sebagai bagian dari tugasnya sebagai seorang staf menteri. Mereka yang dulu berjaya membawa nama negeri, kini kadang hanya untuk keperluan makan pun sangat sulit, ujarnya.

Dari sana, Icuk banyak merenung. Ia merasa hidupnya selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. ''Makna hidup bagi saya adalah pengabdian. Jadi, kita harus bisa bermanfaat buat orang banyak,'' ujarnya kepadaRepublika di sela-sela Kejuaraan Thomas dan Uber Cup di Jakarta belum lama ini.

Kalau kita mau hidup, ujar ayah pebulutangkis Tommy Sugiarto ini, maka harus berarti, harus jadi ahli manfaat buat orang banyak. ''Minimal bagaimana bisa dimulai dari lingkungan keluarga kita, kemudian lingkungan komunitas luar rumah kita. Terus bagaimana bisa bermanfaat buat di daerah kita terus pada akhirnya kita baru berbicara bagaimana kita bisa bermanfaat bagi bangsa ini,'' tuturnya panjang.

Icuk menuturkan, kesadaran dirinya membantu teman-teman sesama atlet yang senior-senior yang tidak mapan lagi sekitar empat tahun yang lalu. ''Saya didatangi salah satu adik kelas saya dari cabang olahraga senam yang datang ke rumah saya yang mengadu akan diusir dari rumah kontrakannya mau karena tidak mampu membayar sewa, katanya.

Ia tergugah. Ia melemparkan wacana untuk membantu para mantan atlet yang telah sepuh. Banyak yang menoleh pada idenya, tak sedikit yang mencibir. Namun ia jalan terus. ''Alangkah bahagianya kita bisa berkumpul lagi, istilahnya mengingat-ingat masa lalu, kita sama-sama berjuang, sekarang sudah ada yang punya perusahaan. Yang dulu pernah sama-sama dalam satu barisan dalam satu defile pasukan seperti di Asian Games maupun di SEA Games, tapi hidupnya masih memprihatinkan. Nah, siapa lagi yang mau memperjuangkan nasib mereka kalau kita saja yang pernah dalam satu barisannggak mau meneriakkan. Apalagi orang lain. Ini yang melatarbelakangi saya tergugah.

Padahal bagi para mantan atlet, dukungan tak harus berbentuk materi. Disambangi, dirangkul, ...itu saja sudah membuat batinnya sejahtera, tambahnya. Hal itu, kata dia, sesungguhnya adalah wujud dari nilai-nilai agama. Bahkan sekadar senyumpun bermakna sedekah, asal dilakukan dengan ikhlas bukan? kata dia. Ia yakin semua agama mengajarkan hal yang sama.

Kini Icuk membentuk Yayasan Atlet untuk membantu mereka. Ia berkeiningan seluruh atlet di Indonesia menjadi satu keluarga. Yang saya usung di dalam organisasi ini bagaimana kita selalu berbicara dalam bahasa Merah Putih. ''Jadi, tidak ada sekat. Kalau bahasa kita Merah Putih, tidak membeda-bedakan dari cabang apa. Itulah yang akan saya kembangkan ke depan, ujarnya.



KRISYANTO



KRISYANTO
Saturday, 12 July 2008 21:55 WIB

''Dari dulu sebenarnya saya udah belajar Islam cuma belum spesifik dan sekadar tahu shalat saja. Nggak tau apa sebenarnya shalat, wudhu itugimana. Rukun- rukun dan baca surat asal bunyi saja. Alhamdulillah sekarang tidak asal bunyi lagi. Insya Allah sekarang udah bisa melafalkan
dengan baik.''

Pengakuan itulah yang meluncur dari bibir Krisyanto (42), mantan vokalis Jamrud, saat ditanya tentang ketertarikannya mendalami Islam. Ia menyadari bahwa manusia tidak akan selamanya hidup sehat. Pada titik tertentu semua manusia akan menemui ajalnya. Hal inilah yang menggerakkan hatinya untuk
belajar Islam.

Dari rasa takut itu, sedikit demi sedikit ia mulai menjalani kehidupan yang diyakininya membawanya lebih baik. Dosa-dosa lampau yang kerap mengganggunya membuat pria yang akrab disapa Yanto ini lebih termotivasi untuk perbaiki diri. ''Bawa amal apa kita bila mati, amal baik saja belum
tentu diterima,'' tutur pria empat anak ini.

Rasa takut juga yang mendorongnya untuk mendalami Islam lebih serius lewat pengajian dan talkshow. Sejak beberapa bulan belakang Yanto sering terdengar mengisi acara talkshow tentang keislaman di berbagai wilayah di Indonesia. Ia bersama rekan eks groupnya Jamrud, Riki Tedi, terus
disibukkan dengan kegiatan tersebut.

Ia menolak mengatakan kegiatan itu sebagai dakwah. ''Hanya berbagi cerita dan pengalaman spiritual dengan masyarakat dan mahasiswa, kita ditemani orang yang paham,'' ungkap dia. Ia dan Riki Tedi memang tak sendiri menyambangi masyarakat. Mereka didampingi Ustad Ali Muslim, yang mengatur
semua jadwal talkshow dan membantu mereka menerangkan isu-isu keislaman.

Namun sejak beberapa pekan terakhir Yanto mengaku kegiatan keagamaannya itu mulai terganggu karena kesibukannya mempersiapkan album solo bertema sosial yang akan diluncurkan Juni 2008. ''Beberapa kali tidak ikut talkshow, tapi mereka (Ustad Ali dan Riki Tedi) jalan terus. Mereka
maklum, tapi bila punya waktu luang saya akan menyempatkan diri,'' ujar dia.

Meski Sudah beberapa waktu tidak mengikuti kegiatan keagamaan, membaca Alquran sebisa mungkin tidak ia tinggalkan. Setelah shalat, dia selalu menyempatkan diri untuk melafalkan ayat-ayat suci Alquran. Ia mengaku tidak ingin cepat-cepat khatam Alquran. Dia khawatir bila terlalu cepat
mengkhatam Aquran bakal membuatnya cepat puas dan berhenti membaca Alquran. Ia memahami, bahwa setiap Muslim harus terus memelihara kebiasaan membaca dan mendalami Alquran hingga akhir hayatnya.

Semangatnya belajar dan memahami Alquran ini pun ia tularkan pada keempat anaknya. ''Anak-anak anak harus ditularkan semangat belajar agama dan Alquran. Mereka tanggung jawab saya,'' tutur Yanto. Ia pun sedikit demi sedikit berusaha untuk berdakwah di rumah sendiri. Kepada putrinya, dari
kecil sudah ia ajarkan untuk mengenal jilbab. Istrinya pun sudah berusaha untuk memahami urgensi menutup aurat dengan berjilbab.

Keluarga pun turut memberikan dorongan padanya untuk mendalami agama. Menurut dia, keluarganya sangat bersyukur karena dirinya mau belajar agama. Mereka, kata Yanto, juga merasa tenteram karena berhasil meninggalkan dunia gemerlap di klab-klab malam.

Ia membenarkan pandangan orang tentang kehidupan artis dijalaninya selama ini identik dengan hura-hura dan glamor. Tetapi dengan jalan hidup yang dipilihnya saat ini, Yanto menjadi lebih sering tinggal di rumah dan menjaga keluarganya.

Saat masih di jamrud dulu, Yanto memang sering meninggalkan keluarga. Dengan sekarang bersolo karier, dia punya kebebasan lebih untuk menerima maupun menolak tawaran manggung. Saat masih di Jamrud, Yanto harus menjalani semua tawaran yang telah diterima manajemen grupnya.

Walaupun penghasilannya saat ini memang tidak sebesar saat masih bersama Jamrud, dia mengaku tetap senang karena bisa memiliki banyak waktu buat keluarga. ''Walau tidak banyak, rezeki dari Allah harus disyukuri berapapun jumlahnya,'' ujar dia.

Sejauh ini ia juga sangat mensyukuri kehidupannya. Segala rezeki yang diterimanya, dia sambut dengan rasa syukur. Yanto pun sangat memahami bahwa yang namanya rezeki itu tidak selalu berupa materi, tetapi juga bisa berupa kesehatan, anak saleh, dan anugerah-anugerah lain yang ia terima
dalam hidupnya.

Sekarang Yanto mengaku terpaksa tetap berada di dunia musik karena tidak banyak pekerjaan lain yang bisa dipilihnya untuk menghidupi anak dan istri. Sukses, buat dia adalah gabungan antara usaha dan ketentuan Allah SWT. Sebagai manusia, dia hanya berusaha semaksimal mungkin untuk bisa
meraih kesuksesan. Selanjutnya, dia pasrah pada Allah SWT.

Meski telah banyak berubah, Yanto menganggap dirinya belum betul-betul istiqamah dalam menjalani agama dan masih ada sedikit sifat mencintai dunia. Kini, dia sibuk menyiapkan album religi untuk bisa diluncurkan Ramadhan tahun ini.

Krisyanto Djani
Tempat dan tanggal lahir: Bandung 17 Februari 1966
Nama Istri: Lili Lesmana Wati
Pendidikan:
SD Kebon Sari Cimahi
SMP N 1 Banten
SMU YPP Pande
Uninus Fak Hukum angkatan 1984


BERLIANA FEBRIANTI



BERLIANA FEBRIANTI
Saturday, 12 July 2008 21:49 WIB


''Makna hijrah buat saya setelah berkeluarga dan mempunyai anak adalah saya harus mengubah banyak hal sifat-sifat negatif yang ada di saya.

Berliana Febrianti, artis sinetron itu, mengucapkan kalimat itu dengan tenang. Ketika menikah, saya hijrah; menjadi sosok yang baru, yang telah memiliki keluarga sendiri.

Menikah, bagi Berliana, adalah sebuah tanggung jawab. Saya punya suami, anak-anak. Saya ingin anak saya menjadi anak yang saleh dan salehah, ujarnya. Lingkungan terdekat anak adalah orang tuanya. Anak akan mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Jadi, kita harus menjadi teladan buat anak-anak,'' tegas Berliana yang ditemui pada jumpa pers persiapan Gerak Hijrah di Jakarta akhir pekan lalu.

Wanita yang dinikahi Teuku Muhammad Revi Kasya tujuh lalu dan kini sudah memiliki dua buah hati, Revanza (7) dan Syaila (5) mengaku sangat terinspirasi oleh kedua anaknya. ''Hijrah saya karena terinspirasi oleh anak-anak. Saya merasa di saat itulah saya dikasih berkah sama Allah, tanggung jawab yang besar selama ini.

Menurut Berliana, ia kini meniatkan semua pekerjaan demi anak-anaknya. Bintang sinetron yang melejit lewat sinetron Annisa (1995) dan Noktah Merah Perkawinan ini mengaku sebagai orang yang biasa-biasa saja. ''Saya kebetulan tipe orang yang nggak neko-neko, tambahnya.

Ia mengaku kini dirinya sedikit melompat dari masa lalu. Dulu masih malas shalat, tapi sekarang saya selalu berusaha tepat waktu. Lagi-lagi didasari pada tanggung jawab bahwa saya harus memberikan contoh yang baik bagi anak-anak saya.''

Wanita yang pernah main di layar lebar Puisi Tak Terkuburkan tahun 2000 ini mendapatkan pendidikan agama langsung dari kedua orang tuanya. ''Saya belajar agama langsung dari orang tua sejak kecil. Saya rutin mengaji setiap seminggu dua kali.

Dengan kesadaran berhijrah, Berliana mencoba menjalankan keyakinan tersebut bersama sang suami dan anak-anaknya termasuk dalam shalat berjamaah. Tidak seluruh waktu memang. Kalau kita berkumpul pasti selalu berjamaah. Biasanya waktu Magrib dan Isya, tambahnya.

Berliana Febrianti

Tanggal lahir: 21 Februari 1973
Suami: Teuku Muhammad Revi Kasya
Anak: Revanza (7), Syaila (5)
Pendidikan:
S-1, Fakultas Managemen, Univ. Trisakti
S-2, Ilmu Komunikasi Massa Univ. Indonesia
Sinetron Pertama: Anissa, 1995, Noktah Merah Perkawinan
Sinetron Terakhir: Cinta Mutiara, SCTV
Layar Lebar: Puisi Tak Terkuburkan, 2000




Jumat, 18 Maret 2011

CHRISTINE HAKIM

Christine Hakim saat menghadiri pemutaran perdana
'Eat, Pray, Love' di Ziegfeld Theater, New York



RENCANA CHRISTINE HAKIM BIKIN FILM
TENTANG AUTISME DIDUKUNG MENSOS
Jumat, 18 Maret 2011, 17:49 WIB


REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri menyatakan salut dan mendukung inisiatif aktris kawakan Christine Hakim yang membuat film dokumenter tentang autisme. "Kami melayani rehabilitasi penderita autis, khususnya anak berkebutuhan khusus melalui panti atau kerja sama dengan LSM," katanya.

Mensos hari itu menerima kunjungan Christine Hakim yang ditemani Andreas Harry (neurologis) dan Ricky Avenzora (pakar kehutanan IPB yang juga penderita autis) untuk melaporkan tentang pembuatan film dokumenter mengenai autisme itu. "Potensi warga autis ternyata sangat dahsyat," kata Mensos.

Pada kesempatan itu, Mensos juga menyatakan kekagumannya saat diberitahu bahwa Albert Einstein adalah salah satu penderita autis. Sementara itu Christine Hakim menyatakan prestasi anak dan penderita autis, termasuk yang berkecimpung dalam dunia seni dan budaya juga mengagumkan.

"Ada anak autis yang ahli lukis dan karyanya dihargai sampai ratusan juta rupiah," kata pemeran utama film "Tjoet Nyak Dien" itu.

Sedangkan Andreas Herry menyatakan jumlah penderita autis di Indonesia cukup besar. "Prevalensi autis di Indonesia cukup tinggi, yakni 8/1000 penduduk (sekitar 1,8 juta). Kondisi mereka beragam, ada yang tenang atau agresif, tapi mayoritas memiliki bakat khusus," kata Andreas.

Mensos berharap kerja sama pemerintah dan masyarakat, serta LSM dapat terwujud dalam bentuk sosialisasi kepada orang tua dan publik menymbut Hari Autis se-Dunia pada 4 April mendatang.

Red: Siwi Tri Puji B
Sumber: Antara