Rabu, 10 Agustus 2011

HERU SUNDARU



Heru Sundaru

Kontrol Faktor Pencetus,

Kunci Mengendalikan Asma

Edisi 801 | 01 Aug 2011


Salam Perspektif Baru,

Hari ini topiknya sangat penting sebab banyak sekali kawan-kawan, kenalan, dan dari segi statistik orang yang menderita asma. Penyakit yang sudah banyak dikenal tapi barangkali tindakannya masih membutuhkan penjelasan. Jadi kita beruntung mendapat tamu orang yang sangat punya otoritas dalam penyakit asma yaitu Dr. Heru Sundaru, spesialis penyakit dalam, konsultan alergi dan imunologi.

Heru Sundaru menegaskan asma tidak bisa disembuhkan karena faktor genetik berperan di situ. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrolnya supaya tidak terjadi komplikasi, dan kualitas hidup penderitanya bisa menjadi lebih baik. Artinya, penderitanya bisa enjoy, bisa santai dengan keluarga, bisa mencari uang untuk biaya pengobatannya.

Menurut Heru Sundaru, karena dasarnya genetik maka frekunesi asma kebanyakan stabil. Orang yang awalnya asmanya ringan, akan ringan terus. Begitupula sebaliknya. Bila terkena faktor pencetus asma maka akan bisa bervariasi dari hari ke hari. Namun itu bisa dikontrol dengan baik jika kita memberikan pengobatan dan menjauhkan faktor pencetus. Kata kuncinya adalah kontrol. Jika bisa mengontrol dengan baik, maka kita terhindar dari serangan asma. Dengan kita terkontrol maka pengidap asma bisa menikmati hidupnya dengan baik.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Heru Sundaru.

Mengapa terjadi asma?

Rasanya pertanyaan itu simple sekali, tapi jawabannya susah sekali. Asma adalah sesuatu yang memiliki banyak faktor terlibat. Pertama, faktor genetik sehingga tidak heran bila seseorang yang memiliki penyakit asma, misalnya ayah atau ibu, maka anaknya pun ada asma. Suatu survei menunjukkan 30% - 35% seseorang mempunyai asma dari faktor keturunan. Ini didapat dari hasil tanya jawab (wawancara) antara pasien dengan dokter. Tidak melalui pemeriksaan genetik.

Kemudian ada faktor lain yang ikut terlibat di situ yaitu faktor risiko yang menyebabkan dia bisa asma. Pertama adalah Alergen. Alergen yang paling banyak di dunia adalah tungau debu rumah. Kita pernah mendengar tungau debu rumah ada di Indonesia, Amerika, Australia kecuali di Kutub Utara atau Kutub Selatan dimana tungau tidak tumbuh. Faktor lain yang juga ikut berperan adalah lingkungan yang kurang sehat, polusi, dan lain-lain. Asma lebih banyak terdapat di daerah perkotaan daripada pedesaan. Ada dugaan bahwa faktor infeksi juga bisa menyebabkan asma.

Karena genetik berarti ada sebagian dari sebab asma yang tidak terhindarkan, Apakah kemudian asma bisa dihilangkan atau tidak?

Sampai sejauh ini kode genetik itu sangat berperan. Kalau kita bicara genetik maka kita bicara juga tentang kromosom. Kromosom itu menjadi genetik, masing-masing genetik itu berperan pada asma. Sampai saat ini ilmu pengetahuan belum sampai kepada bisa mengubah genetik seseorang.

Sekali seseorang ketahuan asma maka dia seumur hidup akan memiliki asma, Tidak bisa disembuhkan. Apakah asma bisa dikendalikan?

Bisa dikendalikan, namun demikian sangat bervariasi. Satu orang bisa terkena asma hanya satu tahun sekali. Di lain pihak ada orang lain setiap hari menderita asma sampai terganggu kerjanya, tidurnya, dan sebagainya. Penderitanya sangat bervariasi. Asma tidak bisa disembuhkan karena genetik berperan di situ. Yang bisa kita lakukan adalah hanya bisa mengontrol supaya tidak terjadi komplikasi, dan kualitas hidup penderitanya bisa menjadi lebih baik. Artinya, penderitanya bisa enjoy, bisa santai dengan keluarga, bisa mencari uang untuk biaya pengobatannya.

Apakah frekuensinya bisa berubah misalnya dari semula setahun sekali menjadi seminggu?

Bisa sekali, yang semula jarang terjadi bisa menjadi sering karena sesuatu misalnya dia stres. Jadi itu bisa berubah. Begitu pula sebaliknya. Orang yang sering kali sesak bisa berubah menjadi jarang dengan lingkungan yang lebih baik.

Ada suatu penelitian yang dilakukan di Belanda menunjukkan orang yang sesak dan sulit dikendalikan asmanya berubah menjadi berkurang asmanya saat pergi ke pegunungan Alpen. Apa iya semua orang harus tinggal di daerah tersebut? Jadi kita harus kontrol dengan pengobatan agar orang itu bisa hidup lebih baik.

Tadi disebut Kutub Utara dan Kutub Selatan, lalu Pegunungan Alpen. Apakah itu berarti asma lebih terkendali dalam cuaca lebih dingin?

Tergantung penyebabnya. Kalau ciri khas orang asma adalah saluran pernafasannya sangat sensitif (hypersensitive) terhadap berbagai macam zat. Misalnya, perubahan cuaca, kelembaban udara, alergen. Kalau alergennya tungau debu rumah, maka alergennya bisa dikatakan nol di Alpen, Kutub Utara dan Kutub Selatan karena di sana itu tidak tumbuh. Kalau penyebabnya adalah alergen maka asma orang tersebut bisa dikendalikan.

Apakah banyak atau tidak jumlah orang asma yang tidak tahu bahwa dia asma, atau menurut penelitian itu penyakit yang sudah diketahui sehingga diketahui juga pengobatannya?

Banyak sekali karena gejala asma hampir menyerupai penyakit lain. Kalau pada orang tua, orang asma bisa diidentikkan orang-orang yang disebut penyakit aspegic kronik. Pada orang yang telah lama merokok, itu menyebabkan saluran pernafasannya menyempit karena terdapat lendir dan sebagainya. Perbedaannya, kalau orang asma saat diobati menjadi baik, sedangkan merokok tetap saja sesak atau sesaknya hanya berubah sedikit walau sudah diobati. Bisa juga seperti penyakit jantung dimana banyak sekali orang menderita sakit jantung saat usia tua. Dia sesak, batuk, dan lain-lain. Seperti juga orang asma di usia tua juga begitu.

Jadi dokter harus betul-betul teliti, misalnya kalau seseorang sesak sejak kecil terus sampai tua, itu biasanya asma. Ada juga anak-anak yang batuk dan sesak, tapi dia hanya bronchitis biasa. Itu beda dengan asma sehingga pengobatannya berbeda. Penyakit karena virus, misalnya flu, menyerupai asma. Setelah flunya baik maka asmanya tidak muncul lagi. Sedangkan kalau asma berturutan terus. Apalagi kalau orang asma itu hampir 70% disertai gejala pilek, sehingga seperti orang flu. Pileknya itu karena alergi, bukan pilek karena infeksi virus di hidung.

Banyak penyakit yang menyerupai. Jadi tidak heran kalau orang awam sering mengatakan, "Saya sedang flu, pilek biasa." Akibatnya, dia tidak tertangani dengan baik. Jangankan orang awam, dokter pun bisa terkecoh. Mungkin ia kurang mahir atau spesialisasinya lain atau barangkali dia menganggap itu hanya flu biasa. Padahal setiap bulan si pasien berobat karena pilek. Karena itu Untuk mengobati sesorang dengan penyakit yang kronis, diagnosis awalnya harus benar. Kita tidak mengobati yang salah, kita mengobati penyakit yang benar. Kalau diagnosisnya benar, biasanya obatnya juga benar.

Apa tanda-tanda untuk memastikan bahwa kita memiliki asma?

Pertama, untuk membuat diagnosis yang baik maka kita melakukan wawancara. Ini karena penyakit asma hilang timbul, suatu hari baik kemudian datang lagi. Ada kalanya penyakit itu berlangsung terus. Kedua, ada kalanya memburuk di malam hari. Ia sering terbangun malam hari dan mengalami batuk-batuk walau tidak selalu sesak, apalagi bila batuk-batuknya disertai sesak. Biasanya itu menjelang pagi hari Ketiga adalah usia. Orang-orang yang mengalami asma biasanya mulai dari anak-anak. Namun tidak menutup kemungkinan asma itu datang setelah usia 40 tahun. Umumnya, asma dimulai dari anak-anak, hilang sebentar sewaktu remaja, muncul lagi sewaktu dewasa.


Kalau ada penyakit yang muncul di usia 40 tahun berarti itu laten walaupun genetik, betulkah?

Betul sekali, bisa muncul pada usia 40 tahun. Kembali lagi kita harus ada wawancara yang baik. Lalu kita harus tanyakan faktor pencetusnya. Misalnya, dia lagi enjoy, kemudian stres, lalu sesak. Atau saat ada orang menyapu dan terkena debu membuat dia sesak. Itu faktor pencetus. Lalu, umumnya kita mengadakan pemeriksaan badan. Kita akan dengar ada bunyi "ngik-ngik" (berdecit).

Kita lihat cara pasien mengambil nafas (inspirasi) dan mengeluarkan nafas (ekspirasi). Kalau pada penderita asma maka ekspirasi akan memanjang, biasanya 3:1 berubah menjadi 1:1. Jadi memerlukan waktu lebih lama untuk mengeluarkan nafas.

Jika mau lebih canggih lagi kita melakukan pemeriksaan spirometary yaitu meniupkan udara dari paru-paru kita ke dalam suatu alat untuk mendeteksi apakah kita ada penyempitan saluran nafas. Lalu kita semprotkan obat, bila dalam waktu 5 – 15 menit penyempitan itu hilang maka orang tersebut asma. Itu tidak terjadi pada penderita jantung, dan pada penyakit paru yang lain.

Apakah semprotan obat itu penting?

Ya. Ada dua jenis obat semprotan. Semprotan yang pertama adalah obat yang hanya bisa melegakan saluran nafas immediately disebut bronchodilator. Semprotkan, tunggu 5-10 menit, pasien merasa lega. Namun demikian, tidak semua orang disemprot langsung lega. Pada orang-orang yang sudah kronis dimana ada peradangan di situ, kita harus memberikan obat anti radang. Di luar dikenal dengan nama prednisone, prednisolone yang merupakan jenis generik. Kita memberikannya selama dua minggu. Penyempitan yang tadinya tidak bisa diubah dengan bronchodilator kemudian kita ukur sudah melebar lagi. Itu adalah asma.

Dalam pengalaman dokter, walaupun kita sudah tahu itu tidak bisa dihilangkan apakah pasien dokter lebih banyak yang memburuk atau membaik seiring perjalan waktu?

Kebanyakan itu stabil. Orang yang awalnya asmanya ringan, akan ringan terus. Begitupula sebaliknya. Namun, bila terkena faktor pencetus tadi maka akan bisa bervariasi dari hari ke hari. Dasarnya secara genetik, yang ringan biasanya tetap ringan terus, yang berat tetap menjadi berat. Namun itu bisa dikontrol dengan baik jika kita memberikan pengobatan dan menjauhkan faktor pencetus. Kata kuncinya adalah kontrol. Jika bisa mengontrol dengan baik, maka pasien bisa menikmati hidupnya dengan baik.

Kalau dikatakan faktor pencetus bisa stres atau emosi, tentu lingkungan kerja berperan penting untuk orang yang bekerja selama delapan jam sehari. Apakah kalau orang yang dulu sering asma tapi sekarang lebih ringan berarti lingkungan kerjanya bagus, betulkah?

Tidak langsung. Kalau gajinya tinggi barangkali iya.

Apakah penyakit ini membahayakan nyawa?


Penyakit ini bisa membahayakan. Laporan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), pada tahun 2005 terdapat 255.000 orang meninggal karena asma. Kemudian dari 255.000 orang tadi sebanyak 80% terjadi di negara berkembang.

Kalau dokter pikir, apakah orang yang meninggal tadi karena penyakitnya tidak tertolong derajatnya atau karena kurang waspada?

Dua-duanya bisa.

Bagaimana supaya orang masih bisa hidup normal dan bahagia dengan warisan genetik penyakit asma?

Pertama, saya ingin menyampaikan informasi dari WHO mengenai tema Hari Asma Sedunia yaitu "You can control your asma". Artinya, kalau kita berusaha maka kita bisa mengendalikan asma kita, baik mulai dengan diri kita sendiri maupun pertolongan dokter. Hal yang sangat penting di sini adalah mengetahui seberapa berat derajat asma kita, apakah asma saya ini terkendali dengan baik dalam kehidupan saya sehari-hari.

Itu bisa dilihat dari gejala yang muncul, apakah setiap hari, apakah kita suka terbangun malam hari, apakah aktifitas saya terganggu sehari-harinya, apakah sering menggunakan obat anti asma yang melegakan pernafasan. Dari situ kita bisa menilai asma itu belum terkendali. Itu ada skornya. Kalau belum terkendali, apakah ada faktor yang memperburuk asma kita. Misalnya, kita ada pilek dan sinusitis. Itu akan memperburuk asma. Hal lainnya adalah sakit maag atau juga cairan lambung yang menaik ke atas akan menimbulkan asma. Begitu pula overweight. Itu akan memperburuk asma kita. Hal-hal yang demikian harus kita kendalikan dengan baik.

Kemudian, kita berfikir apakah kita sudah menggunakan obat dengan benar? Ada dua jenis obat, yaitu yang pertama adalah obat pelega. Itu dipakai kalau kita dalam keadaan sesak. Kalau kita tidak sesak, kita tidak pakai. Kedua adalah obat pengontrol. Sama-sama disemprotkan. Itu yang memang harus digunakan setiap hari. Ada dua jenis obat asma yang kita sering salah gunakan. Pada umumnya pasien senang menggunakan obat pelega karena dalam waktu lima menit sudah lega. Namun beberapa jam kemudian minta lagi-minta lagi. Orang bilang kecanduan. Memang tidak pada tempatnya.

Dalam keadaan demikian, kalau kita lebih dari dua kali semprot dalam waktu satu minggu maka kita harus memakai obat pengontrol. Pengontrol itu umumnya adalah golongan steroid. Saat kita sesak atau tidak, obat pengontrol itu harus dipakai setiap hari. Untuk mengetahui dapat mengontrol itu atau tidak, kita bisa melihat dari nilai berapa skor keandalan asma kita. Jadi diketahui apakah kita perlu menambah obat atau tidak. Kita sesuaikan dengan tingkat kekontrolan asma kita, berapa nilainya, apakah terkontrol dengan baik atau tidak.

Kalau orang darah tinggi diukur dengan spignomanomater, kalau orang sakit gula diukur dengan kadar gula darah, orang asma dengan asma control test. Test untuk melihat berapa skor saya. Itulah kuncinya. Kalau kita terkontrol dengan baik, maka kita akan terhindar dari bahaya.

Apakah kita bisa memiliki alat tes asma itu atau harus mendatangi RS?

Kita bisa melihatnya dengan menjawab daftar pertanyaan. Dengan kita terkontrol maka kita terhindar dari serangan asma. Dengan kita terkontrol maka kita terhindar dari akut berat yang menyebabkan kematian. Masing-masing penyakit itu ada alat kendalinya. Semua pengobatan punya target. Kalau orang asma skornya harus 20. Semuanya terkendali, semua harus punya ukuran untuk menyatakan kita terkontrol atau tidak.

Apakah ada pengaruh langsung dari diet and excercise untuk asma?

Kalau dia tidak ada alergi pada makanan, rasanya tidak ada pengaruhnya. Semua orang harus excercise. Orang asma juga harus excercise, namun kita lihat dia dalam keadaan sesak atau tidak. Kalau dalam keadaan sesak atau kambuh, dia tidak boleh excercise. Ada tekniknya, dia harus warming up dulu bahkan kalau perlu dia harus menggunakan obat pencegah sebelum excercise. Jangan heran, orang-orang pemenang medali emas olimpiade sebagian adalah orang asma. Excercise bukan kendala untuk orang asma.

Endang Sukara



Endang Sukara
Ternak Sapi Menggunakan Iptek
Edisi 802 | 05 Aug 2011

Salam Perspektif Baru,

Perbincangan kita akan bersentuhan dengan perayaan Lebaran mendatang khususnya ketersediaan daging sapi di hari Lebaran. Kita tahu polemik tentang Australia yang menghentikan pengiriman sapi ke Indonesia dengan alasan Indonesia tidak memiliki alat pemotongan hewan yang memperhatikan kebersihan dan standar yang benar untuk pemotongan hewan. Kita akan membicarakannya dengan Prof. Dr. Endang Sukara, Wakil Kepala LIPI.

Menurut Endang Sukara, saat Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia seharusnya Indonesia bangkit dari kejadian ini karena mempunyai lahan yang luas dan kesempatan untuk mengembangkan industri peternakan sapi terbuka sangat lebar. Dulu di Nusa Tenggara Timur (NTT), kita pernah sangat berjaya dengan kualitas sapi yang sangat bagus karena memang kualitas rumputnya baik kalau kita bandingkan dengan Australia. Kalau kita mau urus itu maka hasilnya akan jauh lebih baik. Hanya karena kita tidak merawatnya dengan baik sehingga kita ketinggalan.

Endang Sukara mengatakan kita punya akumulasi ilmu pengetahuan yang luar biasa dan seharusnya mengambil ilmu pengetahuan tersebut untuk didampingkan dengan kekayaan kita yaitu letak geografis dan keadaan tanah vulkanik yang subur. Kita juga mempunyai kekayaan lain yaitu keragaman hayati baik di darat dan di laut maupun keragaman budaya. Dalam hal ini kita harus menggunakan pendekatan diagonal. Jadi setiap kementerian sektor, universitas, lembaga riset terbaik yang memiliki kompetensi mendedikasikan kemampuannya untuk perkembangan bangsa ini. Misalnya untuk pangan, seharusnya hal itu dibicarakan di sidang kabinet dengan menggunakan pendekatan diagonal. Artinya, hasil dari kemampuan kementerian sektor, kemampuan universitas menunjang di sana.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dan Endang Sukara.

Saya baru mengetahui bahwa kita hanya memiliki sekitar 11% Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang bersertifikat halal. Bagaimana respon Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang kondisi RPH tersebut?

Dari informasi yang kami peroleh dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) dan juga Majelis Ulama Indonesia (MUI), dari jumlah 900 RPH yang ada di Indonesia hanya 11% memiliki sertifikat halal. Padahal kita negara muslim terbesar di dunia sehingga seharusnya memperhatikan hal ini. Saya agak malu juga karena pusat halal yang sangat powerful di dunia ada di Thailand yang dipimpin oleh cucu K.H. Achmad Dahlan. Dia sepertinya orang Indonesia tetapi tidak bisa berbahasa Indonesia. Kita harus mawas diri karena konsumen kita sebagian besar muslim. Kalau hewan dipotong sesuai aturan yang baik, misalnya bersertifikat halal, tentu dagingnya juga akan menjadi baik.

Beberapa waktu lalu, Australia mensinyalir ada beberapa RPH yang tidak mempunyai nomor kontrol veteriner. Itu suatu persyaratan khusus di semua RPH bahwa setiap sapi yang akan dipotong harus mempunyai nomor tersebut. Ini untuk menunjukkan sapi tersebut bebas penyakit, dan sapi boleh dipotong dengan harapan penyakit yang bisa menular akibat dari mengkonsumsi daging sapi berpenyakit tidak terjadi. Saat Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia, seharusnya Indonesia bangkit dari kejadian ini karena mempunyai lahan yang luas dan kesempatan untuk mengembangkan industri peternakan sapi terbuka sangat lebar.

Dulu di Indonesia Timur, yaitu di Nusa Tenggara Timur (NTT), kita pernah sangat berjaya dengan kualitas sapi yang sangat bagus karena memang kualitas rumputnya baik kalau kita bandingkan dengan Australia. Kalau kita mau urus itu maka hasilnya akan jauh lebih baik. Hanya karena kita tidak merawatnya dengan baik sehingga kita ketinggalan. Pada waktu zaman Belanda, Indonesia merdeka dan sampai sekarang, sapi NTT yang diambil ke Jawa adalah sapi pilihan dan yang baik, sehingga yang sekarang tertinggal di NTT hanya sapi yang kecil. Nah kita harus bangkit untuk mengembangkan kembali usaha-usaha peternakan sapi termasuk memperbaiki kualitas genetik dan juga memperbanyak populasi sapi.

Apa solusi dari LIPI?

Kita memiliki beberapa pakar khususnya di pusat penelitian bioteknologi yang banyak menimba ilmu tentang peternakan sapi. Kita ingin mengembangkan peternakan sapi modern. Kemudian kita mencari partner dan melalui proses perjalanan hampir 15 tahun akhirnya kita memilih Spanyol sebagai mitra dari sisi teknologi peternakan sapi. Sedangkan untuk bidang processing kulitnya adalah Italia. Kita belajar dari mereka.

Kita membuat daftar mengenai apa saja ilmu pengetahuan yang harus kita timba. Dari mulai proses produksi sperma beku untuk memilih benih menjadi jantan dan betina. Juga mengenai cara melakukan inseminasi buatan dengan baik, mengolah pakan dan mengawetkan pakan. Itu termasuk dari sisi processingnya, RPH dan juga pengolahan susu menjadi yoghurt, keju, es krim. Semua itu akan disebar ke seluruh masyarakat Indonesia. Dengan bantuan Spanyol, disamping mendapatkan peralatan laboratorium yang serba canggih, kita juga mempunyai model untuk RPH dan pengolahan susu. Saya berkeinginan dan mempunyai cita-cita bahwa laboratorium yang handal tersebut bisa menjadi daya magnet bagi para ilmuwan, tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Kalau mau mempelajari peternakan sapi tropis datang ke laboratorium di Cibinong Science Center, LIPI.

Di situ saya ingin setiap tahun ada ilmu pengetahuan baru yang muncul tentang peternakan modern, dan setiap tahun ada hak kekayaan intelektual yang dihasilkan. Hasil-hasil penelitian tersebut akan diterjemahkan ke pilot plant yang kita punya, yaitu ke model-model RPH atau pengolahan susu. Jadi, sebenarnya fasilitas yang kita miliki ini akan dijadikan sebagai "bidan" untuk melahirkan banyak usaha kecil dan menengah (UKM) baru yang benar.

Apakah kerja sama dengan Spanyol itu sudah dilakukan lama? Apa yang telah dihasilkan selama ini?

Saya ingin meluruskan dahulu, negosiasi kerja sama sudah berlangsung lama lebih dari 15 tahun dan baru terealisasi pada tahun ini. Itu karena pihak-pihak di pemerintahan, khususnya Kementerian Keuangan Indonesia setuju terhadap kerja sama ini. Negosiasinya lama sekali karena kita harus bisa meyakinkan pentingnya kerja sama itu. Bantuan dari Spanyol bersifat pinjaman lunak, tapi saya menilai itu sangat berharga kalau dihubungkan ke pembangunan dan peningkatan kemampuan masyarakat.

Berapa nilai pinjaman lunak tersebut?

Sekitar 14,6 juta Euro. Semua didedikasikan untuk membeli peralatan yang bagus, sehingga kita bisa mengikuti perkembangan teknologi zaman sekarang.

Bagaimana kaitannya dengan upaya melahirkan UKM-UKM baru?

Waktu itu saya pernah melirik sosok peternakan sapi di Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Saya kenal baik dengan H. Sudana, Ketua Koperasi Susu Perah di sana. Saya melihat setiap hari di sana menghasilkan 400.000 liter susu sapi. Susu tidak bisa dibendung, harus diproduksi. Padahal produktifitasnya paling hebat hanya 8 liter/sapi/hari. Namun dengan teknologi yang ada bisa membuat produktifitasnya sampai 15 liter. Jadi sebetulnya begitu banyak peningkatan produktifitas yang didapat kalau masyarakat di sana betul-betul mengikuti program kita dan didukung oleh pemerintah.

Yang jadi menarik lagi, H. Sudana mengangkut susu sapi itu dengan mobil berpendingin ke Jakarta, dan dijual ke pabrik pengolahan susu di Jakarta dengan harga yang sangat murah. Katakanlah hanya Rp 1.500 per liter. 

Tapi kalau itu dijadikan susu yang dipasteurisasi maka satu liter susu bisa menjadi lima cup. Harga satu cup bisa Rp 2.000. Jika dihubungkan dengan program kesehatan anak-anak sekolah, maka setiap minggu mereka bisa minum susu dua kali misalnya. Kalau melihat ke situ barangkali kita bisa mendapatkan marjin keuntungan Rp 10.000 dari satu liter. Jadi pendapatan masyarakat di Garut akan bertambah. Belum lagi produktifitas susu sapinya meningkat menjadi dua kali lipat.

Nilai pinjaman itu akan menjadi sangat kecil asalkan ditopang oleh pemerintah daerah dan masyarakat ikut bergabung dengan kita. Bahkan banyak rantai ekonomi yang bisa dikembangkan. Bagi orang yang hanya menanam rumput untuk dipanen dan dijadikan pakan, maka dia bisa menjual rumputnya. Juga bisa membantu orang yang hanya mengolah dari kotoran sapi untuk dijadikan kompos. Jadi, membuka peluang kerja.

Apa yang sedang dikembangkan sekarang?

Sekarang saya sedang melakukan percobaan mengenai peternakan sapi untuk menghasilkan listrik. Dengan dua ekor sapi, kita mampu menghasilkan 1.000 watt listrik untuk tujuh jam, dan menghasilkan listrik dua jam untuk dipakai memasak secara terus menerus. Dari situ bisa dihasilkan juga pupuk organik yang sangat potensial. Itu sudah dikembangkan di beberapa lokasi di Jambi dan Lampung. Tapi ini hanya model dan model ini harus dibungkus dengan kebijakan nasional atau peraturan pemerintah daerah. Misalnya, peraturan mengenai orang yang memelihara sapi dilarang membuang kotorannya ke sungai, tapi harus dijadikan listrik dan untuk memasak.

Jadi, ini berdampak sangat luas karena rantai ekonominya akan sangat panjang, dan masyarakat akan mendapat keuntungan dari situ. Mengapa kita harus mengirim tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri sampai berdarah-darah, padahal di Indonesia hanya dengan modal yang sangat sederhana ditambah kemauan yang tinggi, tanah vulkanik yang subur dan cahaya matahari yang berlimpah bisa meningkatkan peluang kerja. Jadi, kita seharusnya berbasis saja ke sektor ini yang barangkali bisa membuat perekonomian bisa berkembang dengan baik.

Kita rasanya menjadi optimis mendengar paparan Anda, bahwa sebetulnya kita memiliki hal yang sangat luar biasa, dan kita jarang sekali mendengar cerita semacam ini. Apakah yang Anda paparkan tadi memang sudah berlangsung di beberapa tempat, sehingga kesejahteraan petani susu juga meningkat?

Percobaan itu dilakukan dengan program ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) masuk desa. Dulu program itu pernah dipertanyakan banyak orang. Iptek memang harus proven dulu, harus melalui penelitian kajian yang sangat mendalam. Biarlah hal yang sulit itu dilakukan di laboratorium, tapi kalau sudah diaplikasikan ke masyarakat maka itu harus sangat mudah sehingga masyarakat mudah menerimanya juga.

Saya waktu itu pernah jalan-jalan dengan Taufik Abdullah (Kepala LIPI waktu itu) ke Bengkulu. Saya melihat sosok peternak yang menggemukkan sapi. Lalu kita ajari cara membuat pakan ternak yaitu jangan mengambil dari alam atau mulung rumput. Tapi kita mengajari dengan menanam rumput, mengolah limbahnya. Hasilnya, dia bisa meningkatkan produksi susu lebih cepat dari semula.

Pada waktu kita datang ke sana lagi, ada seorang yang mendatangi Taufik Abdullah dengan matanya berkaca-kaca dan haru. Itu karena dia dengan memiliki 10 ekor sapi bisa menjual tiga ekor sapi dalam setahun, cukup untuk hidup dan bisa menyekolahkan anak. Kalau diajari dengan keikhlasan yang tulus, petani yang tidak punya pendidikan tinggi bisa meningkatkan kehidupannya. Saya pikir harus ada perubahan sikap. Saya tidak menginginkan kita menjual lahan vulkanik yang sangat subur ditambah sinar matahari bagus yang kita miliki ini untuk dieksploitasi bangsa lain. Masa kita sendiri hanya akan mendapatkan upah buruh yang murah. Seharusnya kita sendiri yang mengelola alam ini, dan jangan sampai ada yang ke luar kecuali kita yang proses. Itu berarti menciptakan mata rantai ekonomi yang panjang.

Apa hambatan yang ada dalam mengimplementasikan semua itu karena rasanya kalau melihat yang Anda paparkan kita semua optimis bahwa kita memiliki hal luar biasa yang harus diperjuangkan?

Saya membaca buku-buku sejarah dan terlihat bahwa ilmu pengetahuan seharusnya menjadi soko guru. Ilmu pengetahuan yang dilandasi etika kuat seharusnya menjadi solusi bagi banyak permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Pada 1959 Bung Karno melakukan Pidato Kenegaraan di Cibinong, Jawa Barat memperingati hari Kebangkitan Nasional. Dia mendedikasikan lahan seluas 190 hektar kepada Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia pada waktu itu. "Jadikanlah ini basis ilmu pengetahuan, dan jadikanlah ilmu pengetahuan sebagai soko guru pembangunan semesta berencana," kata Bung Karno waktu itu.

Kemudian pada zaman presiden berikutnya yaitu Soeharto, hal itu terbengkalai. Sewaktu zaman Habibie datang yang dibangun adalah Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Banten. Ini sama sekali terabaikan. Sekarang kita bangkit kembali untuk membangun keutuhan dari sejarah ilmu pengetahuan yang dibangun sejak lama. Kita punya akumulasi ilmu pengetahuan yang luar biasa. Kita ingin mengambil ilmu pengetahuan tersebut untuk didampingkan dengan kekayaan kita yaitu letak geografis dan keadaan tanah vulkanik yang subur. Kita juga mempunyai kekayaan lain yaitu keragaman hayati baik di darat dan di laut maupun keragaman budaya.

Saya kadang-kadang merasa iri dengan teman-teman di Thailand. Sewaktu zaman pemerintahan Thaksin, mereka mematok akan menjadi dapur dunia di tahun 2020, padahal di sana daerah sub tropis, kekayaan alamnya tidak sekaya kita. Malaysia sewaktu itu dipimpin Achmad Badawi menyatakan akan menjadi pusat regional makanan halal. Sekarang mereka benar-benar menjadi pusat regional makanan halal sedunia. Itu sangat jelas.

Indonesia dengan kekayaan alamnya seharusnya bisa juga menjadi pusat makanan dunia yang halal, termasuk tidak ada pestisida di dalamnya dan semua makanan dijamin balance gizi, protein, mineral, dan lain-lain. Selain itu, kekayaan budaya kita dari Sabang sampai Merauke memiliki jenis makanan, cara masak dan menyajikannya yang berbeda-beda. Namun saya melihat tidak ada satu program pun Indonesia yang ingin menjadikan dua atau tiga makanan bangsa ini menjadi makanan dunia. Contoh, di Thailand makanan Tom Yam Koong ada dimana-mana dan dipromosikan. Masakan kita seperti gudeg, kendil, rica-rica belum masuk ke pasar dunia. Ini karena cara masak kita tidak distandarisasi. Misalnya, masakan rendang tidak memiliki standar seperti berapa lama dimasak, berapa tingkat derajat suhunya, bagaimana pemotongan dagingnya, apa saja makanan sapinya sehingga diketahui kandungan lemaknya.

Siapa yang memiliki otoritas untuk melakukan itu?

Kalau di Thailand dengan pendekatan horizontal termasuk melibatkan kementerian sektor dan universitas juga. Tapi saya rasa di Indonesia tidak bisa lagi dengan pendekatan horizontal, kita harus pendekatan diagonal. Jadi setiap kementerian sektor, universitas, lembaga riset terbaik yang memiliki kompetensi mendedikasikan kemampuannya untuk perkembangan bangsa ini. Misalnya untuk pangan, seharusnya hal itu dibicarakan di sidang kabinet dengan menggunakan pendekatan diagonal. 
Artinya, hasil dari kemampuan kementerian sektor, kemampuan universitas menunjang di sana. Tapi itu harus ada visi juga, misalnya menjadikan biodiversity (keragaman hayati) sebagai mindset pembangunan nasional dan untuk meningkatkan daya saing. Keragaman hayati yang kita miliki sebagian besar tidak dimiliki oleh bangsa lain di dunia. Contohnya, keragaman hayati di Papua tidak dijumpai dimana pun di dunia kecuali hanya di Papua. Misalnya, di Merauke, Papua mau dijadikan ladang beras. Itu bencana karena kita memiliki jutaan hektar lahan sagu. Padahal kalau di sana dibangun pelabuhan besar dan pusat industri pengolahan sagu terkemuka di dunia, sehingga sagu bisa diolah menjadi produk lain seperti gula cair, mie, dan lain-lain.

Apakah hal itu pernah dibincangkan di kabinet?

Saya belum paham mengenai hal itu. Yang dibicarakan akan dibuka di Merauke adalah 1,2 juta lahan padi. Itu akan merusak ekosistem dan menghilangkan biodiversity.

Terakhir, apa yang perlu dilakukan Indonesia khususnya LIPI ke depannya?

LIPI harus tetap tegar mencari kebenaran ilmiah dan menyampaikan apapun juga hasilnya itu. Seharusnya LIPI dijadikan sebagai mitra dan "dapur" bagi kementerian sektor.