Sofyan Djalil dan Hamid Awaluddin
Negosiator Perdamaian dengan GAM
Dua tokoh ini adalah orang penting dalam proses perdamaian Aceh, kawasan yang bertahun-tahun menderita karena dilanda konflik. Mereka dalah anggota tim negosiator pemerintah RI dalam proses perundingan yang panjang dan alot dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia.Diakui, kualitas mereka berdua menambah kelancaran diplomasi untuk menghilangkan suasana tegang. Atas dasar itu, sangat tepat kalau pemerintah menunjuk mereka untuk mewakili pemerintah RI dalam dalam melakukan perundingan damai RI-GAM. Apalagi selama ini dalam setiap kali perundangan damai RI-GAM. tim perundingan damai RI-GAM, tim perunding GAM terkenal tak mudah menyerah. Kehadiran keduanya dalam perundingan ini dapat mencairkan suasana dan membawa hasil yang baik.
Dalam perundingan yang diprakarsai Crisis Management Initiative -- lembaga resolusi konflik pimpinan mantan presiden Finlandia, Marti Ahtisari-- ini tim perunding GAM diketuai Malik Mahmud, dan tim perunding RI diketuai Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin. Alotnya perundingan ini tampak sampai lima kali putaran pertemuan.
Hanya sedikit masalah yang nyaris "menggantung", yakni persoalan partai lokal yang dikehendaki GAM. Usulan ini akhirnya disepakati sambil menunggu perubahan UU Parpol.
Pada detik-detik terakhir perundingan ini, kedua pihak lancar membubuhkan paraf pada draf perjanjian setebal 8 halaman. Isinya mengenai pemberian amnesti, pengaturan ekonomi, masalah keamanan, partisipasi politik, dan aturan hukum. Perundingan damai ini akhirnya menghasilkan memorandum of understanding (nota kesepahaman) RI-GAM yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005.
Perjanjian juga menyepakati hadirnya Aceh Monitoring Mission untuk mengawasi penarikan pasukan TNI serta penghancuran senjata milik GAM. AMM terdiri dari utusan Uni Eropa dan ASEAN.
Dalam pidato sambutannya, Hamid menyatakan bahwa perdamaian ini menjadi tanda dimulainya era baru bagi Aceh. Era yang menepis trauma masa silam yang gelap, yang menyebabkan anak-anak kehilangan orang tua, perempuan kehilangan suami, dan suasana di beberapa wilayah yang tidak aman. "Kegelapan itu berakhir setelah kita semua berkomitmen, mengakhiri segala bentuk kekerasan dan memulai hidup baru. Komitmen kita adalah memberi nilai pada martabat manusia," ujarnya.
Tapi era terang tersebut masih harus dikawal. Dalam hal inilah, seusai perundingan tersebut, Sofyan ditunjuk sebagai wakil senior pemerintah RI dalam Aceh Monitoring Mission. Presiden SBY menunjuk Sofyan untuk berperan dalam masalah resolusi konflik seperti ini memang tepat, sebab ia sudah biasa berurusan dengan seluk-beluk diplomasi, baik dalam teori maupun praktik.
Seusai acara penandatanganan MoU, Ketua Tim Perunding Indonesia, Hamid Awaluddin, dan anggota delegasi RI saling bersalaman dan berpelukan dengan anggota tim perunding GAM. Wajah Hamid tampak terharu ketika ia menyampaikan apresiasi atas respons positif dari 50 aktivis GAM yang menghadiri acara itu.
Keberhasilan tim perunding Indonesia yang dipimpin Hamid dalam mencapai kesepakatan damai dengan GAM itu mendapat sambutan penuh kegembiraan dari segenap warga Aceh, seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Susilo, ini langkah awal untuk mewujudkan Aceh yang damai menuju bersatunya seluruh bangsa Indonesia.
Hamid Awaluddin kelahiran Makassar ini dikenal dikenal sebagai sosok yang punya banyak teman karena pandai bergaul dan suka bercanda. Namanya begitu cepat dikenal, setelah meraih gelar doktor dalam bidang hukum di Amerika Serikat (AS). Di samping kuliah, selama belasan tahun di AS, Hamid juga menekuni profesi peneliti politik di Kedubes Filipina dan Kongres AS. Ia sempat pula menjadi Sekretaris Eksekutif pada Kantor Pengacara International SAA.
Meski di Komisi Pemilihan Umum (KPU) --tempat kerja Hamid sebelum menjadi menteri-- marak praktik KKN, bagi Hamid, KKN adalah persoalan serius yang harus diperangi. Karena sikapnya itu, Kejaksaan Agung merekrutnya menjadi anggota Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Penyandang gelar goktor bidang legal justice ini juga pernah menjadi special advisor untuk pemberantasan tindak korupsi pada Partnership for Governance Reform in Indonesia.
Adapun Sofyan Abdul Djalil sangat terobsesi untuk memberikan nilai tambah (added value) kepada lingkungan, di mana pun berada, sebagai amal saleh. Itulah sebabnya, ia boleh dikata termasuk orang yang berdedikasi tinggi dan punya banyak pengalaman.
Sebagai tipikal pekerja keras yang terus belajar dan hidup penuh semangat, menjelang pemilu presiden 2004, Sofyan terlibat sebagai relawan di kubu pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla. Dia tak mengharapkan pamrih apa-apa. Kalaupun diberikan kesempatan untuk menciptakan nilai tambah di mana pun, ia akan melakukan yang terbaik. Akhirnya,
Sofyan terpilih menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi.
© 2011 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.

